Saturday, February 22, 2020

Sekolah Karena Status

ilustrasi

Zaman dulu pas lulus SD saya merasa bangga karena keterima di SMP negeri. Lulus SMP juga bangga karena diterima masuk SMA negeri.
Di SMA pas naik kelas dua ada penjurusan, bangga karena masuk IPA. Eh, waktu itu istilahnya A1 untuk Fisika, A2 untuk Biologi dan A3 untuk Sosial.
Maka kalau pas lewat kelas A2 atai A3, rasanya kok lebih gagah gitu.
Lulus SMA ikut test masuk perguruan tinggi negeri. Dan saya bangga lagi karena diterima di dua kampus negeri sekaligus, yaitui IAIN dan UGM. Karena gak mungkin kuliah dobel, saya tinggalkan IAIN (sekarang jadi UIN) dan teruskan UGM.
Kalau dipikir-pikir sekarang, agak lucu juga ya. Sekolah dan kuliah kok cuma ngejar gengsi?
Gengsi itu maksudnya kalau pas lebaran dan ada silaturrahmi keluarga, kan biasanya ditanya sama saudara, sekolah atau kuliah dimana? Jawabnya tuh senang dan bangga. Di sekolah negeri, di kampus negeri.
Rasanya badan agak melayang sedikit dan ujung kaki serasa tidak menyentuh tanah. Jadi ringan melayang rasanya.
Setelah itu saya mulai berpikir agak serius, sebenarnya saya ini ke depan mau jadi apa sih? Maksudnya kalau ditelusuri dari minat, sebenarnya saya agak kurang minat dengan semua jenjang sekolah dan kuliah selama ini.
Apalagi di bidang ilmu eksak seperti Fisika, Kimia, Biologi dan Matematika. Rasanya kok saya lebih minat jadi aktifis dakwah, ngaji dan ngumpul di musholla, jadi anak Rohis, ikut halaqoh, liqo', mabit, daurah, dan sebangsanya.
Minat saya ternyata jistru pada aktifitas keagamaan, tapi kuliah saya lain jurusan. Secara pribahasa jadi men sana in korpore sano. Kuliah kesana aktifitasnya kesono.
Malah jadi ambigu. Kuliah gak serius dan dakwah pun tidak fokus. Lama-lama saya harus memilih.
Kalau mau serius terjun di dunia dakwah, saya bukan berarti santai-santai. Saya harus naik level dong, setidaknya ke level pro, bukan sekedar jadi aktifis amatiran dan kroco.
Yang saya alami saat itu, orang yang sangat dihormati di kalangan aktifis dakwah adalah yang kuliah di Timur Tengah, gelarnya Lc, pintar bahasa Arab cas cis cus. Baca kitab lancar ngacir.
Sedangkan yang kuliahnya umum macam saya, meski jadi aktifis tapi cuma jadi kroco abadi, tidak pernah naik level.
Disitulah saya kemudian berubah pikiran dan mulai banting setir 180 derajat. Bangku kuliah di kampus negeri pun saya tinggalkan. Dan saya pastikan bahwa saya harus kuliah di Madinah, atau Mesir, atau negara Arab mana saja lah.
Dan akhirnya kesempatan saya hanya satu, yaitu masuk LIPIA di Jakarta. Soalnya hanya LIPIA yang mau mengakui ijazah SMAN saya. Yang lainnya mensyaratkan harus punya ijazah madrasah aliyah. Dan saya pun terdampar di LIPIA. Lumayan, di kalangan aktifis dakwah, gengsinya rada tinggi juga lah.
Hehe, gengsi lagi urusannya.
Tapi seiring dengan waktu, lama-lama saya merasa memang di kampus macam inilah tempat saya. Saya bisa memenuhi hajat dan kebutuhan yang para aktifis dakwah tidak bisa mendapatkannya.
Saya jadi paham dan mengeri bahasa Arab. Dan akhirnya juga bisa menguasai beberapa cabang ilmu keislaman, seperti Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih, Tafsir, Hadits, Qawaid Fiqhiyah, Mawaris, Nahwu, Balaghah, Adab, Tarikh dan seterusnya.
Ternyata justru ilmu-ilmu inilah yang sebenarnya saya butuhkan. Ilmu yang sejalan dengan panggilan jiwa saya sebagai aktifis dakwah. Maka kuliah syariah bagi saya sudah bukan semata karena gengsi lagi, tapi karena memang saya membutuhkannya.
Beberapa waktu lalu sempat ketemu dengan teman yang dulu sesama aktifis dakwah. Mereka pada curcol dan ngaku menyesal kenapa tidak banting stir waktu masa kuliah dulu.
Mereka ternyata punya minat yang sama dengan saya, yaitu jadi aktifis dakwah. Hanya bedanya, mereka tidak membekali diri dengan ilmu-ilmu keislaman dengan serius.
Ngaji sih, tapi ya ngaji amatiran gitu lah. Ngaji sama ustadz yang juga tidak menguasai ilmu-ilmu keislaman. Ngajinya lagi-lagi motivasi, lagi-lagi motivasi. Dari sejak 30 tajun yang lalu, masih disitu-situ juga. Gak nambah apa-apa. Bak orang menari poco-poco, maju dua langkah terus mundur dua langkah. Hehe.
Sayang sekali memang, dulu mereka tidak kuliah syariah secara serius. Jadi sampai hari ini, bahasa Arab tetap masih buta total, baca literatur ilmu-ilmu keislaman pun mustahil. Ilmunya sangat mengandalkan buku terjemahan. Dan yang paling disesali, tetap saja tidak punya sanad keilmuan.

No comments:

Post a Comment