Saturday, February 22, 2020

7 Negara Dengan Latihan Militer Paling Ekstrim

7 Negara Dengan Latihan Militer Paling Ekstrim - Untuk menciptakan prajurit militer yang kuat dan tangguh, sejumlah negara memberikan latihan yang cukup ekstrim dan cenderung berbahaya.
contohnya merangkak pada jalur berbatu, berjalan diatas api dan latihan diantara zat-zat kimia.

mengingat tugas militer adalah melindungi negara maka tak heran jika di beberapa negara memberikan latihan seperti itu.
berikut ini 7 Negara Dengan Latihan Militer Paling Ekstrim

7. Korea Selatan - Bertelanjang Dada Dan Menutupi Tubuh Dengan Salju


di korea selatan salju digunakan untuk latihan militer, para prajurit diharuskan bertelanjang dada kemudian menutupi tubuhnya dengan salju yang sangat dingin.
latihan militer seperti ini dipercaya dapat memperkuat fisik, dan ketabahan psikologis para prajurit militer.

6. Thailand - Meminum Darah Ular Kobra


meminum darah ular kobra adalah bagian latihan dari cara bertahan hidup, karena prajurit militer harus bisa bertahan hidup di kondisi apapun dan dimanapun berada.
selain meminum darah ular kobra, para parjurit militer thailand juga memakan serangga.
latihan ini dilakukan bersama marinir amerika serikat pada tahun 2013 yang lalu.

5. Taiwan - Merangkak Di Jalan Berbatu


para marinir di taiwan harus menjalani latihan militer yang cukup berat, mereka harus merangkak di jalan yang berbatu.
selain merasa kesakitan mereka juga harus rela tubuhnya tergores oleh batu-batu yang telah tersusun itu.

4. Jerman - Mereload Pistol Didalam Air


selain menahan nafas, latihan pasukan khusus jerman ini harus bisa mereload pistol dengan cepat.
latihan ini ditujukan supaya mereka dapat berpikir jernih dalam kondisi yang terdesak.

3. Belarus - Latihan Dengan Bahan Kimia Berbahaya


Belarus salah satu negara di eropa timur juga memberikan latihan yang ekstrim untuk para prajurit militernya. yaitu latihan dengan ditemani bahan kimia berbahaya, yang dalam sekejap bisa saja merenggut nyawa mereka.
latihan tersebut diberikan untuk pasukan khusus belarus, yang ditujukan untuk menghadapi perang kimia.

2. Belanda - Berkuda Diantara Bom Asap


berbeda dari negara sebelumnya, belanda satu-satunya negara yang menggunakan kuda untuk melatih para prajurit militernya.
pada latihan tersebut, prajurit militer belanda harus menunggang kuda, kemudian harus melewati bom asap yang sangat tebal dengan jarak pandang nyaris nol.
latihan ini sangat berbahaya, karena bisa saja mereka saling bertabrakan.

1. Belarus - Berjalan Diatas Api


Selain berlatih dengan ditemani bahan kimia berbahaya, belarus masih punya latihan militer yang lebih ekstrim,
yaitu berlatih keseimbangan tubuh. pasukan khusus belarus harus bisa berjalan diatas rantai dan tidak boleh sampai terjatuh, jika sampai terjatuh itu sangat berbahaya, karena dibawah terdapat api yang menyala.

nah itulah 7 Negara Dengan Latihan Militer Paling Ekstrim, untuk latihan militer di indonesia kurang tahu, Mungkin tak seekstrim ketujuh negara diatas. Tapi untuk kemampuan militer indonesia tak perlu diragukan lagi, dunia telah mengakui kehebatan militer indonesia.

Ashraf Sinclair, Adjie Massaid dan Silent Killer



"Jantungmu kena.."
Begitu kata temanku seorang dokter spesialis jantung. Kaget ? Pasti. Karena selama ini saya sama sekali tidak merasa sakit apa-apa. Tapi sesudah melewati beberapa tes, kesimpulannya seperti itu. 

Kardiovaskular sering disebut sebagai silent killer, atau pembunuh senyap. Itu karena orang yang mengidapnya tidak sadar bahwa pembuluh darahnya yang berhubungan sama jantung mampet. Seperti selang yang buntu karena kerak, keraknya harus dibersihkan supaya aliran darah ke jantung bisa lancar.
Tapi ini kan bukan selang yang mudah dibersihkan dengan bahan kimia. Ini pembuluh jantung yang sangat tipis dan kecil. Jalan terbaik adalah memasang ring, supaya melebarkan jalan aliran darah ke jantung.
Masalahnya, tidak banyak yang sadar dengan hal ini. Karena mereka merasa sehat. Dan setiap kali ada penyumbatan, mereka menganggapnya masuk angin. Karena badan kurang enak, mereka lalu olahraga dengan keras. Yang terjadi darah memompa dengan keras tapi salurannya buntu. 
Akibatnya kalau gak stroke, ya lewat..
Ashraf Sinclair, suami BCL, yang baru saja meninggal dalam usia 40 tahun adalah orang yg rajin olahraga, hidup sehat dan tidak merokok. Tapi ada kemungkinan dia kena kardiovaskular.
Lho, kenapa ?
Karena, menurut seorang Profesor dibidang jantung, penyebab utama kardio adalah Gen. Jadi kalau orangtua kita punya riwayat kardio, ya anaknya kemungkinan besar juga kena. 
Penyebab kardio paling utama menurutnya adalah darah tinggi, kolesterol, dan kekentalan darah yang berlebih. Gabungan ini menyebabkan kerak pada saluran pembuluh jantung. Dan obatnya hanya satu, setiap hari selama seumur hidup, minum obat untuk mengatasi itu. 
Ashraf mungkin tidak menyadari itu, karena merasa sehat. Di IG nya bahkan dia bilang sesuatu tentang sit up 20 ribu kali dalam waktu 30 menit. Padahal, kalau sudah kena penyumbatan, olahraga tidak boleh terlalu keras atau kompetitif.
Ingat Adjie Massaid kan ? 
Adjie juga meninggal karena masalah sama. Mungkin dia merasa badannya gak enak, sehingga maen futsal. Padahal futsal itu olahraga berat banget, mirip basket. Akhirnya, dia pingsan dilapangan bola dan meninggal.
Adjie dan Ashraf punya pola yang sama. Hidup sehat, olahragawan dan tidak merokok. Mereka "dibunuh" juga secara senyap.
Jadi, kalau sudah usia 40 tahunan, lebih baik cek ke dokter jantung apakah punya resiko penyumbatan. Kalau sudah kena, ya rutin minum obat setiap hari seumur hidup. Kalau ngga, mirip Adian Napitupulu yang sudah 5 ring, tapi mungkin gak disiplin minum obatnya.
Ini semua hanya perkiraan saja. Dokter, terutama yang spesialis jantung mungkin bisa memberikan penjelasan yang lebih akurat. Saya hanya bicara berdasar pengalaman dalam sisi orang awam.
Terakhir, saya harus terimakasih kepada orang2 yang sudah berusaha keras supaya saya baik-baik saja. Kepada seorang teman dokter wanita di Surabaya yang mengingatkan saya dan memberikan tes gratis. 
Kepada dokter-dokter di Medistra yang berjibaku supaya saya masuk rumah sakit. Kepada seorang Profesor ahli yang mengoperasi saya dan tidak mau dibayar. Dan kepada seorang tokoh besar yang memaksa saya untuk operasi, karena tahu saya bandel dan keras kepala.
Saya tidak bisa menyebut nama kalian, karena saya menghormati privacy. Saya hanya bisa menyebut kalian "para malaikat di bumi" karena bekerja dalam senyap sesenyap pembunuh di jantung saya, sehingga saya masih bisa menulis sampai kini..
Biarlah Tuhan yang membalasnya. Saya hanya bisa menyediakan secangkir kopi..
Seruput..

Sekolah Karena Status

ilustrasi

Zaman dulu pas lulus SD saya merasa bangga karena keterima di SMP negeri. Lulus SMP juga bangga karena diterima masuk SMA negeri.
Di SMA pas naik kelas dua ada penjurusan, bangga karena masuk IPA. Eh, waktu itu istilahnya A1 untuk Fisika, A2 untuk Biologi dan A3 untuk Sosial.
Maka kalau pas lewat kelas A2 atai A3, rasanya kok lebih gagah gitu.
Lulus SMA ikut test masuk perguruan tinggi negeri. Dan saya bangga lagi karena diterima di dua kampus negeri sekaligus, yaitui IAIN dan UGM. Karena gak mungkin kuliah dobel, saya tinggalkan IAIN (sekarang jadi UIN) dan teruskan UGM.
Kalau dipikir-pikir sekarang, agak lucu juga ya. Sekolah dan kuliah kok cuma ngejar gengsi?
Gengsi itu maksudnya kalau pas lebaran dan ada silaturrahmi keluarga, kan biasanya ditanya sama saudara, sekolah atau kuliah dimana? Jawabnya tuh senang dan bangga. Di sekolah negeri, di kampus negeri.
Rasanya badan agak melayang sedikit dan ujung kaki serasa tidak menyentuh tanah. Jadi ringan melayang rasanya.
Setelah itu saya mulai berpikir agak serius, sebenarnya saya ini ke depan mau jadi apa sih? Maksudnya kalau ditelusuri dari minat, sebenarnya saya agak kurang minat dengan semua jenjang sekolah dan kuliah selama ini.
Apalagi di bidang ilmu eksak seperti Fisika, Kimia, Biologi dan Matematika. Rasanya kok saya lebih minat jadi aktifis dakwah, ngaji dan ngumpul di musholla, jadi anak Rohis, ikut halaqoh, liqo', mabit, daurah, dan sebangsanya.
Minat saya ternyata jistru pada aktifitas keagamaan, tapi kuliah saya lain jurusan. Secara pribahasa jadi men sana in korpore sano. Kuliah kesana aktifitasnya kesono.
Malah jadi ambigu. Kuliah gak serius dan dakwah pun tidak fokus. Lama-lama saya harus memilih.
Kalau mau serius terjun di dunia dakwah, saya bukan berarti santai-santai. Saya harus naik level dong, setidaknya ke level pro, bukan sekedar jadi aktifis amatiran dan kroco.
Yang saya alami saat itu, orang yang sangat dihormati di kalangan aktifis dakwah adalah yang kuliah di Timur Tengah, gelarnya Lc, pintar bahasa Arab cas cis cus. Baca kitab lancar ngacir.
Sedangkan yang kuliahnya umum macam saya, meski jadi aktifis tapi cuma jadi kroco abadi, tidak pernah naik level.
Disitulah saya kemudian berubah pikiran dan mulai banting setir 180 derajat. Bangku kuliah di kampus negeri pun saya tinggalkan. Dan saya pastikan bahwa saya harus kuliah di Madinah, atau Mesir, atau negara Arab mana saja lah.
Dan akhirnya kesempatan saya hanya satu, yaitu masuk LIPIA di Jakarta. Soalnya hanya LIPIA yang mau mengakui ijazah SMAN saya. Yang lainnya mensyaratkan harus punya ijazah madrasah aliyah. Dan saya pun terdampar di LIPIA. Lumayan, di kalangan aktifis dakwah, gengsinya rada tinggi juga lah.
Hehe, gengsi lagi urusannya.
Tapi seiring dengan waktu, lama-lama saya merasa memang di kampus macam inilah tempat saya. Saya bisa memenuhi hajat dan kebutuhan yang para aktifis dakwah tidak bisa mendapatkannya.
Saya jadi paham dan mengeri bahasa Arab. Dan akhirnya juga bisa menguasai beberapa cabang ilmu keislaman, seperti Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih, Tafsir, Hadits, Qawaid Fiqhiyah, Mawaris, Nahwu, Balaghah, Adab, Tarikh dan seterusnya.
Ternyata justru ilmu-ilmu inilah yang sebenarnya saya butuhkan. Ilmu yang sejalan dengan panggilan jiwa saya sebagai aktifis dakwah. Maka kuliah syariah bagi saya sudah bukan semata karena gengsi lagi, tapi karena memang saya membutuhkannya.
Beberapa waktu lalu sempat ketemu dengan teman yang dulu sesama aktifis dakwah. Mereka pada curcol dan ngaku menyesal kenapa tidak banting stir waktu masa kuliah dulu.
Mereka ternyata punya minat yang sama dengan saya, yaitu jadi aktifis dakwah. Hanya bedanya, mereka tidak membekali diri dengan ilmu-ilmu keislaman dengan serius.
Ngaji sih, tapi ya ngaji amatiran gitu lah. Ngaji sama ustadz yang juga tidak menguasai ilmu-ilmu keislaman. Ngajinya lagi-lagi motivasi, lagi-lagi motivasi. Dari sejak 30 tajun yang lalu, masih disitu-situ juga. Gak nambah apa-apa. Bak orang menari poco-poco, maju dua langkah terus mundur dua langkah. Hehe.
Sayang sekali memang, dulu mereka tidak kuliah syariah secara serius. Jadi sampai hari ini, bahasa Arab tetap masih buta total, baca literatur ilmu-ilmu keislaman pun mustahil. Ilmunya sangat mengandalkan buku terjemahan. Dan yang paling disesali, tetap saja tidak punya sanad keilmuan.

Indonesia VS Saudi

ilustrasi

Hubungan kedua negara sangat unik dan lucu. Mungkin karena saling cinta dan saling butuh.
Resminya negara kita sudah menghentikan pengiriman jasa TKI ke Saudi sejak beberapa tahun yang lalu. Namun aliran TKI ke Saudi lancar-lancar saja. Ternyata mereka masuk dengan visa ziarah.
Yang cerita bukan saya, tapi Duta Besar RI untuk Saudi sendiri. "Modus yang dipakai untuk memasukan TKI ke Saudi adalah dengan menggunakan visa ziarah. Faktanya enggak pernah ditutup, Saudi punya cara sendiri, punya cara untuk buka pintu itu. Modusnya begini, mereka masuk diberikan visa ziarah selama 90 hari, setelah sampai sana di convert jadi izin tinggal. Kalau sudah jadi izin tinggal ini bisa 5-10 tahun," jelas Agus Maftuh Abegebriel.
Dan ternyata akhirnya ketahuan bahwa TKI kita berangkat ke Saudi bukan semata-mata kita yang butuh devisa. Tetapi orang Saudi sendiri yang butuh TKI kita. Kira-kira seperti judul lagu : Benci Tapi Rindu.
Sebelumnya, Dubes Saudi untuk Indonesia, Osamah Mohammad Al Shuibi sempat meminta pada Pemerintah Indonesia agar segera kembali membuka kran pengiriman TKI ke Saudi. Nah, ketahuan kan siapa yang butuh?
Saya bilang hubungan kita dengan Saudi itu lucu, karena Pak Dubes kita untuk Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, ketika ditanya berapa jumlah WNI kita yang ada di Saudi, Beliau hanya bisa menjawab : WAllahu a'lam. Hanya Allah SWT saja yang tahu berapa jumlah mereka.
"Jumlah WNI kita di Saudi seberapa banyak yang tahu hanya Allah," ujar Agus di ruang konferensi pers, Palapa, Kemlu, Pejambon, Jakarta Pusat.
Pemerintah Saudi tidak punya datanya, begitu juga dengan pemerintah kita. Sama-sama tidak punya datannya. Keren banget kan?
Jangan-jangan berapa warga Saudi yang ada di Indonesia, juga hanya Allah SWT yang tahu. Yang jelas kalau kita jalan-jalan ke Puncak Cisarua Jawa Barat, kita seperti lagi ada di Mekkah. Banyak orang Arab nggak tahu lagi pada ngapain.
Soale saya pernah diajak ngomong Arab sama penduduk lokal. Mungkin dikiranya saya orang Arab kali ya. Gara-garanya saya kebetulan pas lagi pakai gamis panjang dan parkir di warung makan.
Puncak itu kan dinging, jadi saya merasa nyaman pakai gamis. Ternyata saya ditawari : harim...harim...zuwaj...zuwaj...

Tuhan yang Menjamin rejeki

ilustrasi

Alexis berangsur sehat dan badannya semakin berisi. Borok (infeksi) di sekitar wajahnya mulai sembuh. Kedua kelopak matanya juga bisa terbuka sempurna. Berbeda ketika awal ditemukan. Selain kelopak matanya yang lengket, untuk berjalan saja ia terlihat gemetar. Saat ini Alexis sudah bisa berlarian dan melompat-lompat.
Sebagaimana layaknya kucing yang dipungut di jalan, Alexis masih belum menemukan tempat yang seharusnya untuk buang air besar. Bahkan kemarin sempat BAB di dalam lobang sepatu saya. Ini jelas sebuah penistaan mengingat selama ini saya selalu merawat sepatu dan kaki agar tidak bau. Tapi Alexis seolah mengatakan bahwa bau sepatu saya identik dengan pubnya. Asem! 
Untuk menu makannya, setelah kemarin dengan nasi yang diurap ikan pindang, hari ini ia begitu menikmati menu barunya. Yaitu Nasi Krawu Tuna. Dan satu lagi, Alexis masih takut dengan air. Ia selalu meronta saat dirawat borok di wajahnya dengan diseka air hangat.
Akhirnya, ada sebuah pertanyaan menggelitik di benak saya saat melihatnya begitu lahap menyantap makanan beraroma Ikan Tuna ini. Kenapa Tuhan menciptakan makhluk (kucing) yang begitu takut dengan air, sementara makanannya (ikan) justru hidup di dalam air? Karena Tuhan telah menjamin rejeki setiap makhluknya melalui perantara siapa atau apa saja. Termasuk bagi manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Anehnya, justru kita yang selalu merasa masih kurang saja. Inilah yang dinamakan makhluk yang kurang ajar terhadap penciptanya.